Selasa, 24 Juni 2014

Bangun Personal Brandingmu!



           
          
gambar: d11consulting.com
Bukan hanya produk lho yang punya brand, kamu atau siapapun harus punya brand sendiri. Gak perlu bingung, apalagi cemas apakah orang seperti kamu yang gak tenar, kurang gaul, prestasi biasa aja, bakat apa adanya juga bisa membangun brand diri atau personal branding. Aku kasi tau ya! Personal branding sebenarnya sudah melekat pada diri kita. Kalau kamu punya bisnis, ini juga salah satu potensi yang harus dimunculkan. Gak mudah? Iya sih, tapi kalau kamu pengen maju baik dari segi materi dan pengalaman maka ini cara jitu untuk meraihnya.
            Ada beberapa pendapat yang mengulas tentang personal branding. Menurut Indari Mastuti, founder Indscript Personal Branding Agency mengatakan, “personal branding adalah cara menemukan potensi diri yang sebenarnya atau proses memunculkan seseorang dari keunikan yang dia miliki.” Agoez Perdana, penulis artikel juga mengemukakan, “Personal Branding adalah satu hal yang sangat penting, dan syarat utama dalam menunjang kesuksesan seseorang.”
            Personal branding adalah hal yang sangat penting. Apakah kamu seorang pengusaha, eksekutif, karyawan, pelajar, mahasiswa atau pejabat dengan personal branding yang baik maka akan memengaruhi nilai tawarmu. Karakter yang kuat juga membantumu membentuk personal branding.
            Banyak keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan personal branding yang bagus. Kepercayaan, hubungan baik, networking, dan peran yang semakin dilirik. Kalau untuk perusahaan tentunya bisa mendatangkan income yang terus meningkat serta project yang terus mengalir.
            Kata Agoez Perdana dalam artikelnya personal branding (kompasiana, 22/3), parameter keberhasilan personal branding ialah saat orang lain membicarakan hal-hal positif pada dirimu dan kemampuanmu memengaruhi orang lain juga sangat baik. Hal-hal positif yang selama ini ingin kamu tonjolkan agar dikenal sebagai orang yang kompeten harus terus dijaga. Karena ini sudah melabeli dirimu dan menjadi paket spesial pada pribadimu.  
            Boleh juga melihat profil orang-orang sukses atau terkenal yang memiliki personal branding yang kuat. Ini tidak secara instan mereka dapatkan, tapi terus berusaha membentuk diri, karakter dan keseharian yang positif. Personal branding layaknya seperti aura yang terpancar pada diri mereka. Orang-orang disekitarnya pun bisa ikut termotivasi, terinspirasi dan meniru apa yang dilakukan.
            Oleh karena itu, mulailah untuk membangun personal branding. Perorangan atau perusahaan bisa melakukan hal yang sama yaitu selalu memberikan yang terbaik saat berhubungan dengan orang lain. Tapi ingat, ini tidak bisa hanya lewat omongan atau tulisan saja. Kunci keberhasilannya adalah dengan membuktikannya lewat tindakan dan sikapmu. Lalu kamu bisa cek, apakah apa yang kamu lakukan selama ini membekas pada orang-orang disekitarmu. Selamat membangun personal branding. (ds)

Pencitraan atau Branding sih?



         
gambar: thejakartapost.com
         Kata pencitraan sepertinya semakin akrab di telinga kita. Apalagi dalam ajang pilpres ini karena sering dikaitkan dengan salah satu kandidat. Apa yang disebut pencitraan, masyarakat atau pengamat menganggap sebagai tindakan untuk menarik simpati dan membangun persepsi positif orang lain terhadap diri orang tersebut. Dengan kata lain, pencitraan yang dibicarakan adalah hal yang dibuat-buat bukan berdasarkan keinginan sendiri.
            Saya, sebagai orang awam sebenarnya sulit untuk menentukan apakah yang dilakukan orang lain terutama penyelenggara Negara (baca pejabat) termasuk dibuat-buat untuk sekedar mencari sensasi , atau memang benar apa adanya bekerja untuk rakyat. 
            Baik pencitraan ataupun personal branding (PB) sebenarnya bukan hanya berbicara tentang pejabat, orang terkenal ataupun bisnis (perusahaan). Kita secara personal juga sangat mungkin memunculkan kedua hal tersebut. Persepsi orang lain terhadap diri kita tercermin dalam keseharian baik di kantor, rumah, dan masyarakat. Persepsinya pun bisa positif atau negative, tergantung pembentukan karakter kita. Mereka yang intensitas waktu bertemunya lebih banyak dengan kita mungkin akan dengan mudah menjawab apakah itu pencitraan atau PB. Tapi, intensitas yang sedikit atau sekedar melihat kita dari jarak jauh atau melalui penilaian orang lain akan lebih sulit untuk menentukan.  Jadi, tuduhan yang terlalu cepat apakah tindakan itu termasuk pencitraan atau PB boleh disimpulkan dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Kuatir, jangan-jangan kita sendiri juga melakukan pencitraan.
 Menurut Indari Mastuti, founder Indscript Personal Branding Agency pertama, “pencitraan kerapkali menutupi kekurangan atau melebih-lebihkan apa yang dimiliki seseorang. Sedangkan PB adalah proses memunculkan seseorang dari keunikan yang dia miliki.” Bersama dengan Wempy Dyocta Kota, pada tahun 2013 Indari menyadari pentingnya menguatkan personal branding perusahaan atau perorangan. Penguatan bisa dilakukan lewat promosi atau bahkan lewat tulisan.
            Tapi, kabar baik bagi kita yang menyadari sedikit - banyak melakukan pencitraan. Ini bisa kita jadikan awal pembentukan personal branding, tentunya yang positif. Bila kita yang selama ini berpura-pura perhatian, optimis, anti korupsi dan jujur pasti memiliki beban untuk mempertahankan sikap tersebut dan harus bisa mempertanggungjawabkannya. Yang awalnya boomerang berubah menjadi rutinitas lalu terbentuklah karakter yang kuat.
            Namun, pencitraan bukanlah hal yang patut diteruskan, karena ini dekat sekali dengan membohongi diri sendiri. Orang yang biasanya melakukan pencitraan pasti melakukannya dengan kaku dan bersifat sementara. Sebaliknya, personal branding erat sekali hubungannya dengan sikap, karakter, visi dan tindakan nyata yang memang benar adanya. Tidak lebay!
            Sekarang, pilihan diserahkan kepada kita. Pencitraan atau personal brandingkah yang ingin dibentuk. Tidak lupa juga untuk lebih bijak menjatuhkan vonis antara dua hal tersebut. Karena keduanya memang selalu muncul baik disengaja ataupun tidak. Mengecek dan bertanya pada diri kita sendiri dan berusaha untuk mengenal orang lain lebih jauh mungkin cara yang paling efektif untuk mengenali pencitraan atau personal branding sih? (ds)   

Senin, 23 Juni 2014

Kasihan Raeni, Wisudawan Terbaik yang diantar Becak Ayahnya



          

     
Raeni saat disambut Rektor Unes, sumber: thejakartapost.com
           


      Kisah Raeni, mahasiswa Fakultas Ekonomi (Akuntansi) Universitas Semarang memang sangat menginspirasi. Bagaimana tidak, seorang anak dengan keterbatasan finansial mampu meraih IPK 3,96 yang nyaris sempurna. Tak jarang, Raeni pun mendapat IP 4,00 di beberapa semester. Yang membuat luar biasa sebenarnya bukanlah capaian IPK Raeni, tapi sosok berjasa di balik kisahnya. Ayahnya yang seorang tukang becak dan pernah menjadi buruh di pabrik kayu lapis pun rela untuk pensiun dini demi modal utama Raeni kuliah yaitu laptop. Ini sempat Raeni ungkapkan saat tampil di acara Hitam Putih, Trans TV.  Mugiyono dan Sujamah, orangtua Raeni pun penuh haru saat mengantar anaknya memasuki prosesi wisuda yang disambut langsung oleh Rektor Unes. Bukan hanya itu, cerita tentang Raeni dan ayahnya yang ramai diliput di berbagai media baik cetak dan elektronik pun mendatangkan berkah. Orang nomor satu di Indonesia, Presiden SBY juga sangat bangga terhadap prestasi Raeni hingga mendaulat Raeni sebagai salah satu anak bangsa terbaik yang mendapat Presidential Scholarship ke Inggris.

     Di balik tingginya IPK yang Raeni sanggup dapatkan sebenarnya ada pertanyaan besar yang mengganjal. Bagi saya, IPK tinggi sebenarnya bisa diraih siapa saja. Malah mungkin ada yang melebihi raihan IPK yang ia dapatkan. Namun, keistimewaan Raeni yang ditonjolkan adalah sebagai anak tukang becak yang notabene dianggap lemah secara finansial dan berhasil lulus dari Universitas Negeri. Hasrat keingintahuan saya yang tinggi tentang cara-cara Raeni mendapatkan IPK mungkin bisa menjawab pertanyaan besar saya. Karena perubahan paradigma pendidikan yang berorientasi pada proses bukan hasil tampaknya tak didukung media. Kenapa? Hampir seluruh headline media terfokus pada IPK Raeni yang tinggi dan Profesi pekerjaan ayahnya. Seperti di Tempo 23/6 “Anak Tukang Becak ini Lulus dengan IPK 3,96”, Merdeka.com 11/6 “Kisah Anak Tukang Becak Lulus dengan IPK 3,96 di Unes” dll. Di sini tampak kalau media sebenarnya tidak memberikan edukasi pada pembaca dan masyarakat umumnya.  Padahal dengan merubah sedikit redaksional judul-judul tersebut dengan lebih menekankan pada cara belajar atau komitmen yang ia terapkan juga pasti akan mendatangkan pundi-pundi rupiah serta ketertarikan pembaca pada media itu.  
        Kesuksesan Raeni sebenarnya bukan hanya saat ia berhasil meraih IPK tinggi, lebih jauh adalah saat ilmu yang ia dapatkan memberikan manfaat bagi orang lain. Lulus kuliah adalah salah satu tangga yang harus ia lakukan, maka dengan predikat cumlaude yang disandangnya, media juga bertanggungjawab untuk mengulik lebih dalam nilai-nilai kebaikan yang dilakukan Raeni selama berkuliah. Tentu saja ini akan menjadi nilai plus suatu berita. Sudah selayaknyalah informasi yang disebarluaskan semakin membuka pikiran rakyatnya, bukan malah membodohi.  Saya juga yakin, kampus Unes, almamater Raeni juga tidak hanya bertujuan membentuk lulusan-lulusan ber-IPK tinggi tanpa memerhatikan proses yang baik dan moral anak didiknya. Keberhasilan Raeni lainnya yang perlu dibagi adalah bagaimana ia mampu mengelola waktu dengan baik selama studi. Ia berhasil lulus dengan cepat yakni 3 tahun 6 bulan 10 hari. Ini prestasi luar biasa, karena banyaknya mahasiswa di DO dengan alasan telah melewati batas waktu maksimal ataupun IP yang bernasib satu koma di luar sana, Raeni malah berhasil mendapatkan nilai hampir sempurna dengan waktu minimal.
         Menurut Indari Mastuti, pendiri Sekolah Perempuan dan penulis puluhan judul buku inspiratif, sekolah yang ideal ialah sekolah yang mampu memunculkan inspirasi, kreativitas, dan interaksi positif yang mendorong seseorang bukan hanya memiliki nilai mata pelajaran yang tinggi tapi juga kemampuan bersosialisasi, berempati, dan bergerak menjadi seseorang di atas rata-rata. Seperti halnya sekolah yang ia dirikan dengan tujuan menginspirasi ibu-ibu untuk produktif dan menularkan inspirasi ke mana saja dengan tulisan, begitu juga peran penting media meurbah paradigm pendidikan kita. Bagi Indari menulis itu bukan bakat, tapi keahlian yang konsisten dilakukan. Begitu juga dengan Raeni, nilai yang tinggi tentu tak mungkin ia dapatkan tanpa kerja keras, sosialisasi yang baik, konsistensi dan komitmen tinggi serta kreativitas manajemen waktu. Satu hal yang perlu dicontoh juga adalah semangatnya untuk terus belajar hingga menjadi sukses dan tetap berbakti kepada kedua orangtuanya.
      Oleh karena itu, kasihan sekali Raeni jika IPK yang susah payah ia peroleh hanya digembar gemborkan melalui angka (baca IPK) saja. Menjelaskan usaha-usaha yang ia lakukan sudah semestinya dilakukan agar bisa menjadi penebar inspirasi bagi mahasiswa, orang muda dan juga seluruh rakyat bangsa ini yang kondisi ekonominya tak jauh berbeda dengannya. lalu tugas siapakah ini? (ds)   

Minggu, 22 Juni 2014

Jadi Head of Student Division, Mau?




sumber: www.statravel.co.nz


Kali ini ada Mutia Nabilah Hashifah, mahasiswi semester 5, jurusan Pendidikan Bahasa Perancis Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Dia adalah head of student division terpilih lho.  Mutia aktif di organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Perguruan Tinggi, Se-Universitas Pendidikan Indonesia a.k.a HIPMI PT UPI. Plus, sibuk di Himpunan Jurusan yang bernama AEDF. Kece abis ya! Gimana gak keren tuh, secara ISIC diakui level internasional dan kasi segudang benefit buat pemegangnya, ditambah jadi ambassadornya. Wow pake banget ya!
Yup, mau seperti Mutia tadi? Kebetulan banget, ISIC lagi cari kamu yang aktif di salah satu atau lebih organisasi untuk gabung dengan ISIC. Pastikan kamu juga orang yang asyik saat berkomunikasi, so pasti tanggung jawab di setiap pekerjaan serta punya dedikasi dan loyalitas yang tinggi. Pasti kamu salah satunya yang ISIC cari deh! Info ini juga boleh kamu share ke temen-temen kampusmu yang ada di Jabodatabek dan sekitaran Bandung lho. Kalau kamu ngaku gaul, cus ambil bagian ya.
            Gak usah galau, woles aja dengan omongan sohibmu. Ini saatnya kamu buktiin eksistensimu. Jangan sampe nyesel diakhir, karena ikutan ini kamu bakal dapat banyak untung. Mau tau aja atau mau banget? Oke, aku kasi tau ni, pertama kamu bisa ikut event tahunan ISIC, menyeleksi Student Division staff terus mengontrol dan mengevaluasi kinerja partnermu. Amazing! Nah dari situ, leadershipmu pun makin terasah lho. Bukan itu aja, bonusnya kamu dapet temen-temen dan jaringan kece yang bakal mantap jadi referensimu nanti.        
Tertarik? Segera kirim profilmu ke naufal.alvira@gmail.com. Kamu bakal ditelpon/email terus diwawancarai deh. Catat harinya, Senin jam 10.00 sampai selesai. Di sana, kamu bisa ketemu salah satu ambassador kece ISIC di Jakarta. Namanya Mohammad Naufal Alvira a.k.a Al. mahasiswa Prof. Dr. Moestopo, call dia di 08569000012. Oke?
Terus sebar luaskan info ini ya Sista and Brother. Karena bisa jadi ini juga penting buat temen-temen tongkronganmu. Sudah tau kan benefit yang ISIC kasi ke membernya? Kalau kamu termasuk yang belum tau, buruan daftar di http://isic.co.id/index.php/join-now. Atau hubungi telepon ISIC ke 021 85918051, SMS di 08998866642, dan pin bb 23BE21CD, dan email ke info@isic.co.id. Ajukan dirimu segara, karena kesempatan tak datang dua kali. Sip guys! (ds)