Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juni 2014

Cus ke Launching Buku



      
gambar: rosda.co.id
    Assalamualaikum..., Alhamdulilah Ramadhan sudah di depan mata. Berdoa yuk semoga Allah mempertemukan kita pada bulan nan mulia ini sampai akhir nanti. Amin. Tapi sebelum mulai puasa, walaupun pemerintah belum menetapkan tanggalnya hihihi….ada event gokil ni. Temanya tentang hijab. Yeah. Cocok banget buat kamu yang smart, berwawasan luas, modern, gaul, dan up to date. Seperti penulis buku yang mau kita launching ini.
            Buku Muslimah Cosmopolitan Lifestyle adalah buku ke 24 Indriya R. Dani. Wow! Buku-buku Indriya lainnya bestseller lho. Seperti buku pertamanya Panduan Pintar Haji dan Umroh, yang sudah cetak ulang. So jangan sampai ketinggalan info keren ini. On time datang jam 9.30, Jumat / 27 Juni di Tea Addict Lounge, Jalan Gunawarman No. 9 Jakarta dengan teman juga oke. Di sini kamu bisa ngobrol santai dengan Mba Indriya yang juga aktif sebagai model, fashion designer dan akademisi. Kamu bisa tanya blak-blakkan tentang buku ber-genre muslimah lifestyle ini dengan beliau.
            Oh ya, acara launching ini juga akan diramaikan oleh penulis sendiri dan ustadzah Lulung Mumtazah. Tambah klop ya! Hampir di setiap bukunya, Mba Indriya mengundang ustad / ustadzah untuk turut menyebarkan ilmu mereka. Makin asyik dong obrolannya? Buku ini juga sesuai banget dengan ilmu yang sedang Mba Indriya jalani yakni Magister Pendidikan Islam. Sekedar info, tesis beliau juga mengangkat tema yang sama dengan buku terbarunya ini.
             Makin kepo ya? Sebelumnya aku kasi bocoran dikit nih tentang bukunya. Judul buku ini Mba Indriya pilih karena menunjukan passion menulisnya yang ingin fokus pada muslimah lifestyle dan ini juga ia persembahkan untuk kamu yang aktif, penyuka mode, berwawasan dan bergaul luas. Buku ini akan jadi panduan komplitmu untuk tetap syar’i dalam situasi dan kondisi apapun. Buku yag terdiri dari 124 halaman ini pun akan semakin menambah wawasanmu tentang pandangan islam terhadap peran dan kedudukan wanita. Dengan menggandeng seorang ustadzah, Mba Indriya ingin menguatkan semua yang ia tuliskan dengan kalam (perkataan) Allah. Bukan hanya itu, diluar harapanmu buku ini juga memperkaya seleramu  tentang baju, hijab dan juga bergaya di depan kamera. Semuanya tetap syar’i lho. Kolaborasinya dengan 11 designer fashion (termasuk Dian Pelangi dkk) serta fotografer top juga ada di sini. Kamu juga bisa ngobrol dengan salah satu perwakilan dari mereka. Makin asyik lagi karena ada tampilan SaKina Voice, dan rahasianya Mba Indriya juga termasuk dalam grup tersebut.    
            Makin kepo? Langsug cap cus ke lokasi tujuan dan pastikan kamu salah satu pemilik buku kece ini. Jangan lupa kamu juga harus love it, share it, dan style it. Sip! Sampai ketemu di acara ini ya. Wassalamualaikum…  (ds)

Rabu, 25 Juni 2014

Tips Jitu Multi Peran IRT ala Penulis Terkenal



      
Indari Mastuti bersama keluarga

Sang pencipta menciptakan laki-laki dan perempuan. Keduanya saling melengkapi. Dijelaskan pula dalam salah satu hadist yang menerangkan setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Begitu juga dalam berumahtangga. Hal yang tidak mudah tapi menyenangkan karena dalam keluarga ada peran ayah, ibu dan anak. Semuanya memunyai andil yang penting dalam mengelola kebahagiaan rumah tangga. Hal ini pulalah yang dilakukan Indari, begitu panggilan akrab ibu dari dua orang anak (3 dan 6 tahun) ini.
           Indari Mastuti, penulis puluhan buku best seller dan Writer Business Specialist, mengobrol dengannya sungguh sangat menyenangkan. Ilmu yang ia miliki pun tak segan selalu dibaginya. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk banyak bertanya pada Teh Indari tentang kesehariannya. Sungguh, dalam hati, saya bergumam ia adalah wanita tak biasa dengan profesi biasa. Jawabannya lugas dan ringkas tapi bisa dimengerti dengan mudah. Ini adalah hasil obrolan online kami beberapa waktu silam.

Assalammualaikum Teh, apa kabar?  
Walaikumsalam, Alhamdulillah baik.

Boleh saya tanya-tanya Teh? Baiknya lewat e-mail atau chat FB saja ya?
Di sini saja boleh (saat itu kami dalam ruang chat yang sama).  

Baik, terimakasih. Teh saya penasaran sekali dengan manajemen waktu Teteh? Secara Teteh sangat sibuk baik sebagai Ibu rumah tangga, penulis, pebisnis, mengurus komunitas IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis), pembicara serta ada kewajiban rumah tangga lainnya.
contoh to do list Teh Indari
Saya punya 185-an to do list setiap harinya. Saya susun dengan sistematis. Kalau yang sudah saya kerjakan saya beri tanda atau centang, sedangkan yang belum saya jadikan prioritas esok harinya. Waktu yang saya sediakan untuk mengerjakan list tersebut selama 3 jam. Waktu lainnya saya gunakan untuk beraktivitas di dunia domestik sebagai IRT, menyambut tamu yang datang ke rumah, bermain dengan anak, bertaman, dan mengerjakan apapun yang saya mau.

Sejak kapan Teh menemukan ide seperti itu? Apa ada yang tidak dikerjakan / terlewat dari list yang telah dibuat?
Sudah saya lakukan 2 tahun ini. Awalnya saya seperti ibu-ibu yang lain, entah apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan, sibuk nggak berhenti-henti. Sejak punya list seperti ini, saya punya banyak waktu luang untuk mengerjakan apapun.  Karena waktu saya bekerja hanya 3 jam. Sisanya apapun bisa saya kerjakan. Di rumah tidak ada asisten rumah tangga dan tamu setiap hari datang serta antar anak sekolah juga.

Wow! Sama sekali tidak ada yang membantu pekerjaan rumah tangga Teh? Lalu bagaimana dengan weekend, apa Teteh juga bekerja atau hanya family time?
Untuk menyetrika saya meminta bantuan orang lain seminggu sekali. Memandikan, menyuapi, semua dilakukan sendiri. Weekend lebih longgar sih. Kebanyakan waktu weekend khususnya Minggu saya tidak bekerja. Kalau Sabtu masih kerja, karena mengajar di Sekolah Perempuan (kelas online / offline) dan masih banyak tamu. Kami berbagi tugas, saya dan suami. Suami saya nyuci lho, ahahhahah. And he is so happy.

Teh alasan tidak memakai jasa asisten rumah tangga kenapa?
Lebih nyaman saja dan lebih asyik dengan berbagi tugas.

Tugas apa saja yang dibagi bersama Teh?
Suami saya mengerjakan ruang bawah, dan saya ruangan atas. Ruang bawah itu, ruang kerja, kelas Sekolah Perempuan, dan ruang public. Di atas ruang keluarga dan kamar pribadi.

Apakah suami juga bekerja kantoran Teh?
Suami saya, financial director di Indscript.

Kalau Teteh pergi karena kesibukan bisnis dan kegiatan lainnya yang mengharuskan meninggalkan rumah lebih dari satu hari lantas bagaimana dengan keluarga dan anak-anak?
Maka, bersyukurlah saya sebab mendapatkan partner hidup dan partner bisnis suami saya. Kami mampu berbagi peran dan menikmatinya. Terima kasih, Ayah.

Jadi pekerjaan IRT juga termasuk to do list Teteh?
Pekerjaan rumah saya buat di agenda tersendiri. Tiap hari berbeda. Misalnya saya mengantar anak ke acara sekolah, memotong kuku anak dan suami, dll. Setiap hari berbeda.

Bagaimana dengan peran kedua orang anak teteh?
Anak saya libatkan, tetapi tidak tidak saya bebani pekerjaan rumah. Mereka diperbantukan jika memang dibutuhkan. Misalnya Nanit (anak sulung) nyuci piring dan Dede beresin mainan. Minimal mereka belajar bertanggungjawab terhadap barang miliknya sendiri.

Yang 185 list perhari tadi apa itu semua berhubungan dengan bisnis Teteh? Sistematisnya juga sama antara to do list IRT dengan pekerjaan Teh?
Kadang tidak semua saya kerjakan, tapi harus jelas mana yang dikerjakan mana yang tidak. 185 to do list diurutkan dari yang terprioritas, penting, dan bisa dilewatkan. Semua tertulis. Kalau tidak dikerjakan hari ini kelihatan, sehingga bisa dikerjakan esok harinya.Hingga mengurus komunitas dan Sekolah Perempuan.

3 jam sehari tadi dimulai dari jam berapa Teh?
Biasanya setelah anak saya sekolah. Sekitar jam setengah delapan pagi. Berakhir jam setengah sebelas siang. Tapi ada yang fleksibel. Kalau bisa dikerjakan sorepun its oke. Yang penting kita tahu apa yang akan kita kerjakan.

Lalu, waktu menulis kapan Teh?
Menulis saya sertakan di to do list. Satu artikel saja. Tidak selalu saya publish, minimal menulis.

Apakah teteh juga ODOA (One Day One Article)?
Yes.

Apakah dulu pernah kerja kantoran Teh? Apa dan di mana?
Pernah. Saya pernah di dunia telekomunikasi selama 5 tahun, di dunia publishing 1 tahun, jurnalistik juga pernah, bahkan asuransi.

Resign sejak kapan Teh?
Tahun 2007 saya resign. Lalu saya mendirikan Indscript.

Terakhir Teh, moto hidupnya apa?
Bagikan sedikit hal positif dari diri Anda dan itu akan menangkis banyak hal negatif dari sekitar Anda.

Oke. Terimakasih Teh sudah meluangkan waktunya. Maaf ya Teh banyak sekali pertanyaannya. Wassalamualaikum.

Di akhir percakapan kami, kata-kata Teteh pun tetap sarat dengan ilmu dan inspirasi. Begini katanya, “Setiap hari ada yang BERTANYA, dan pada saat itulah setiap JAWABAN memberi keajaiban yaitu ILMU yang terus BERTAMBAH. Jangan bosan ditanya dan jangan bosan bertanya.” (ds)

Senin, 23 Juni 2014

Kasihan Raeni, Wisudawan Terbaik yang diantar Becak Ayahnya



          

     
Raeni saat disambut Rektor Unes, sumber: thejakartapost.com
           


      Kisah Raeni, mahasiswa Fakultas Ekonomi (Akuntansi) Universitas Semarang memang sangat menginspirasi. Bagaimana tidak, seorang anak dengan keterbatasan finansial mampu meraih IPK 3,96 yang nyaris sempurna. Tak jarang, Raeni pun mendapat IP 4,00 di beberapa semester. Yang membuat luar biasa sebenarnya bukanlah capaian IPK Raeni, tapi sosok berjasa di balik kisahnya. Ayahnya yang seorang tukang becak dan pernah menjadi buruh di pabrik kayu lapis pun rela untuk pensiun dini demi modal utama Raeni kuliah yaitu laptop. Ini sempat Raeni ungkapkan saat tampil di acara Hitam Putih, Trans TV.  Mugiyono dan Sujamah, orangtua Raeni pun penuh haru saat mengantar anaknya memasuki prosesi wisuda yang disambut langsung oleh Rektor Unes. Bukan hanya itu, cerita tentang Raeni dan ayahnya yang ramai diliput di berbagai media baik cetak dan elektronik pun mendatangkan berkah. Orang nomor satu di Indonesia, Presiden SBY juga sangat bangga terhadap prestasi Raeni hingga mendaulat Raeni sebagai salah satu anak bangsa terbaik yang mendapat Presidential Scholarship ke Inggris.

     Di balik tingginya IPK yang Raeni sanggup dapatkan sebenarnya ada pertanyaan besar yang mengganjal. Bagi saya, IPK tinggi sebenarnya bisa diraih siapa saja. Malah mungkin ada yang melebihi raihan IPK yang ia dapatkan. Namun, keistimewaan Raeni yang ditonjolkan adalah sebagai anak tukang becak yang notabene dianggap lemah secara finansial dan berhasil lulus dari Universitas Negeri. Hasrat keingintahuan saya yang tinggi tentang cara-cara Raeni mendapatkan IPK mungkin bisa menjawab pertanyaan besar saya. Karena perubahan paradigma pendidikan yang berorientasi pada proses bukan hasil tampaknya tak didukung media. Kenapa? Hampir seluruh headline media terfokus pada IPK Raeni yang tinggi dan Profesi pekerjaan ayahnya. Seperti di Tempo 23/6 “Anak Tukang Becak ini Lulus dengan IPK 3,96”, Merdeka.com 11/6 “Kisah Anak Tukang Becak Lulus dengan IPK 3,96 di Unes” dll. Di sini tampak kalau media sebenarnya tidak memberikan edukasi pada pembaca dan masyarakat umumnya.  Padahal dengan merubah sedikit redaksional judul-judul tersebut dengan lebih menekankan pada cara belajar atau komitmen yang ia terapkan juga pasti akan mendatangkan pundi-pundi rupiah serta ketertarikan pembaca pada media itu.  
        Kesuksesan Raeni sebenarnya bukan hanya saat ia berhasil meraih IPK tinggi, lebih jauh adalah saat ilmu yang ia dapatkan memberikan manfaat bagi orang lain. Lulus kuliah adalah salah satu tangga yang harus ia lakukan, maka dengan predikat cumlaude yang disandangnya, media juga bertanggungjawab untuk mengulik lebih dalam nilai-nilai kebaikan yang dilakukan Raeni selama berkuliah. Tentu saja ini akan menjadi nilai plus suatu berita. Sudah selayaknyalah informasi yang disebarluaskan semakin membuka pikiran rakyatnya, bukan malah membodohi.  Saya juga yakin, kampus Unes, almamater Raeni juga tidak hanya bertujuan membentuk lulusan-lulusan ber-IPK tinggi tanpa memerhatikan proses yang baik dan moral anak didiknya. Keberhasilan Raeni lainnya yang perlu dibagi adalah bagaimana ia mampu mengelola waktu dengan baik selama studi. Ia berhasil lulus dengan cepat yakni 3 tahun 6 bulan 10 hari. Ini prestasi luar biasa, karena banyaknya mahasiswa di DO dengan alasan telah melewati batas waktu maksimal ataupun IP yang bernasib satu koma di luar sana, Raeni malah berhasil mendapatkan nilai hampir sempurna dengan waktu minimal.
         Menurut Indari Mastuti, pendiri Sekolah Perempuan dan penulis puluhan judul buku inspiratif, sekolah yang ideal ialah sekolah yang mampu memunculkan inspirasi, kreativitas, dan interaksi positif yang mendorong seseorang bukan hanya memiliki nilai mata pelajaran yang tinggi tapi juga kemampuan bersosialisasi, berempati, dan bergerak menjadi seseorang di atas rata-rata. Seperti halnya sekolah yang ia dirikan dengan tujuan menginspirasi ibu-ibu untuk produktif dan menularkan inspirasi ke mana saja dengan tulisan, begitu juga peran penting media meurbah paradigm pendidikan kita. Bagi Indari menulis itu bukan bakat, tapi keahlian yang konsisten dilakukan. Begitu juga dengan Raeni, nilai yang tinggi tentu tak mungkin ia dapatkan tanpa kerja keras, sosialisasi yang baik, konsistensi dan komitmen tinggi serta kreativitas manajemen waktu. Satu hal yang perlu dicontoh juga adalah semangatnya untuk terus belajar hingga menjadi sukses dan tetap berbakti kepada kedua orangtuanya.
      Oleh karena itu, kasihan sekali Raeni jika IPK yang susah payah ia peroleh hanya digembar gemborkan melalui angka (baca IPK) saja. Menjelaskan usaha-usaha yang ia lakukan sudah semestinya dilakukan agar bisa menjadi penebar inspirasi bagi mahasiswa, orang muda dan juga seluruh rakyat bangsa ini yang kondisi ekonominya tak jauh berbeda dengannya. lalu tugas siapakah ini? (ds)